add

Rabu, 26 Oktober 2011

Renungan Untuk semua Kaum Wanita

Kita kadang jarang bersyukur atas semua yang diberikan oleh TUHAN, kita mengabaikan orang-orang yang sebenarnya tanpa kita sadari mereka sangat berharga untuk kita, nah saya punya satu cerita yang bagus untuk renungan kita, silahkan dibaca yah ƪ('' )ʃ
Semoga peristiwa di bawah ini membuat kita belajar bersyukur untuk apa yang kita miliki :
Aku membencinya, itulah yang selalu kubisikkan dalam hatiku hampir sepanjang kebersamaan kami. Meskipun menikahinya, aku tak pernah benar-benar menyerahkan hatiku padanya. Menikah karena paksaan orangtua, membuatku membenci suamiku sendiri. Walaupun menikah terpaksa, aku tak pernah menunjukkan sikap benciku. Meskipun membencinya, setiap hari aku melayaninya sebagaimana tugas istri. Aku terpaksa melakukan semuanya karena aku tak punya pegangan lain. Beberapa kali muncul keinginan meninggalkannya tapi aku tak punya kemampuan finansial dan dukungan siapapun. Kedua orangtuaku sangat menyayangi suamiku karena menurut mereka, suamiku adalah sosok suami sempurna untuk putri satu-satunya mereka.
Ketika menikah, aku menjadi istri yang teramat manja. Kulakukan segala hal sesuka hatiku. Suamiku juga memanjakanku sedemikian rupa. Aku tak pernah benar-benar menjalani tugasku sebagai seorang istri. Aku selalu bergantung padanya karena aku menganggap hal itu sudah seharusnya setelah apa yang ia lakukan padaku. Aku telah menyerahkan hidupku padanya sehingga tugasnyalah membuatku bahagia dengan menuruti semua keinginanku.
Di rumah kami, akulah ratunya. Tak ada seorangpun yang berani melawan. Jika ada sedikit saja masalah, aku selalu menyalahkan suamiku. Aku tak suka handuknya yang basah yang diletakkan di tempat tidur, aku sebal melihat ia meletakkan sendok sisa mengaduk susu di atas meja dan meninggalkan bekas lengket, aku benci ketika ia memakai komputerku meskipun hanya untuk menyelesaikan pekerjaannya. Aku marah kalau ia menggantung bajunya di kapstock bajuku, aku juga marah kalau ia memakai pasta gigi tanpa memencetnya dengan rapi, aku marah kalau ia menghubungiku hingga berkali-kali ketika aku sedang bersenang-senang dengan teman-temanku.
Tadinya aku memilih untuk tidak punya anak. Meskipun tidak bekerja, tapi aku tak mau mengurus anak. Awalnya dia mendukung dan akupun ber-KB dengan pil. Tapi rupanya ia menyembunyikan keinginannya begitu dalam sampai suatu hari aku lupa minum pil KB dan meskipun ia tahu ia membiarkannya. Akupun hamil dan baru menyadarinya setelah lebih dari empat bulan, dokterpun menolak menggugurkannya.
Itulah kemarahanku terbesar padanya. Kemarahan semakin bertambah ketika aku mengandung sepasang anak kembar dan harus mengalami kelahiran yang sulit. Aku memaksanya melakukan tindakan vasektomi agar aku tidak hamil lagi. Dengan patuh ia melakukan semua keinginanku karena aku mengancam akan meninggalkannya bersama kedua anak kami.
Waktu berlalu hingga anak-anak tak terasa berulang tahun yang ke-delapan. Seperti pagi-pagi sebelumnya, aku bangun paling akhir. Suami dan anak-anak sudah menungguku di meja makan. Seperti biasa, dialah yang menyediakan sarapan pagi dan mengantar anak-anak ke sekolah. Hari itu, ia mengingatkan kalau hari itu ada peringatan ulang tahun ibuku. Aku hanya menjawab dengan anggukan tanpa mempedulikan kata-katanya yang mengingatkan peristiwa tahun sebelumnya, saat itu aku memilih ke mal dan tidak hadir di acara ibu. Yaah, karena merasa terjebak dengan perkawinanku, aku juga membenci kedua orangtuaku.
Sebelum ke kantor, biasanya suamiku mencium pipiku saja dan diikuti anak-anak. Tetapi hari itu, ia juga memelukku sehingga anak-anak menggoda ayahnya dengan ribut. Aku berusaha mengelak dan melepaskan pelukannya. Meskipun akhirnya ikut tersenyum bersama anak-anak. Ia kembali mencium hingga beberapa kali di depan pintu, seakan-akan berat untuk pergi.
Ketika mereka pergi, akupun memutuskan untuk ke salon. Menghabiskan waktu ke salon adalah hobiku. Aku tiba di salon langgananku beberapa jam kemudian. Di salon aku bertemu salah satu temanku sekaligus orang yang tidak kusukai. Kami mengobrol dengan asyik termasuk saling memamerkan kegiatan kami. Tiba waktunya aku harus membayar tagihan salon, namun betapa terkejutnya aku ketika menyadari bahwa dompetku tertinggal di rumah. Meskipun merogoh tasku hingga bagian terdalam aku tak menemukannya di dalam tas. Sambil berusaha mengingat-ingat apa yang terjadi hingga dompetku tak bisa kutemukan aku menelepon suamiku dan bertanya.
“Maaf sayang, kemarin Farhan meminta uang jajan dan aku tak punya uang kecil maka kuambil dari dompetmu. Aku lupa menaruhnya kembali ke tasmu, kalau tidak salah aku letakkan di atas meja kerjaku.” Katanya menjelaskan dengan lembut.
Dengan marah, aku mengomelinya dengan kasar. Kututup telepon tanpa menunggunya selesai bicara. Tak lama kemudian, handphoneku kembali berbunyi dan meski masih kesal, akupun mengangkatnya dengan setengah membentak. “Apalagi??”
“Sayang, aku pulang sekarang, aku akan ambil dompet dan mengantarnya padamu. Sayang sekarang ada dimana?” tanya suamiku cepat , kuatir aku menutup telepon kembali. Aku menyebut nama salonku dan tanpa menunggu jawabannya lagi, aku kembali menutup telepon. Aku berbicara dengan kasir dan mengatakan bahwa suamiku akan datang membayarkan tagihanku. Si empunya Salon yang sahabatku sebenarnya sudah membolehkanku pergi dan mengatakan aku bisa membayarnya nanti kalau aku kembali lagi. Tapi rasa malu karena “musuh”ku juga ikut mendengarku ketinggalan dompet membuatku gengsi untuk berhutang dulu.
Hujan turun ketika aku melihat keluar dan berharap mobil suamiku segera sampai. Menit berlalu menjadi jam, aku semakin tidak sabar sehingga mulai menghubungi handphone suamiku. Tak ada jawaban meskipun sudah berkali-kali kutelepon. Padahal biasanya hanya dua kali berdering teleponku sudah diangkatnya. Aku mulai merasa tidak enak dan marah.
Teleponku diangkat setelah beberapa kali mencoba. Ketika suara bentakanku belum lagi keluar, terdengar suara asing menjawab telepon suamiku. Aku terdiam beberapa saat sebelum suara lelaki asing itu memperkenalkan diri, “selamat siang, ibu. Apakah ibu istri dari bapak armandi?” kujawab pertanyaan itu segera. Lelaki asing itu ternyata seorang polisi, ia memberitahu bahwa suamiku mengalami kecelakaan dan saat ini ia sedang dibawa ke rumah sakit kepolisian. Saat itu aku hanya terdiam dan hanya menjawab terima kasih. Ketika telepon ditutup, aku berjongkok dengan bingung. Tanganku menggenggam erat handphone yang kupegang dan beberapa pegawai salon mendekatiku dengan sigap bertanya ada apa hingga wajahku menjadi pucat seputih kertas.
Entah bagaimana akhirnya aku sampai di rumah sakit. Entah bagaimana juga tahu-tahu seluruh keluarga hadir di sana menyusulku. Aku yang hanya diam seribu bahasa menunggu suamiku di depan ruang gawat darurat. Aku tak tahu harus melakukan apa karena selama ini dialah yang melakukan segalanya untukku. Ketika akhirnya setelah menunggu beberapa jam, tepat ketika kumandang adzan maghrib terdengar seorang dokter keluar dan menyampaikan berita itu. Suamiku telah tiada. Ia pergi bukan karena kecelakaan itu sendiri, serangan stroke-lah yang menyebabkan kematiannya. Selesai mendengar kenyataan itu, aku malah sibuk menguatkan kedua orangtuaku dan orangtuanya yang shock. Sama sekali tak ada airmata setetespun keluar di kedua mataku. Aku sibuk menenangkan ayah ibu dan mertuaku. Anak-anak yang terpukul memelukku dengan erat tetapi kesedihan mereka sama sekali tak mampu membuatku menangis.
Ketika jenazah dibawa ke rumah dan aku duduk di hadapannya, aku termangu menatap wajah itu. Kusadari baru kali inilah aku benar-benar menatap wajahnya yang tampak tertidur pulas. Kudekati wajahnya dan kupandangi dengan seksama. Saat itulah dadaku menjadi sesak teringat apa yang telah ia berikan padaku selama sepuluh tahun kebersamaan kami. Kusentuh perlahan wajahnya yang telah dingin dan kusadari inilah kali pertama kali aku menyentuh wajahnya yang dulu selalu dihiasi senyum hangat. Airmata merebak dimataku, mengaburkan pandanganku. Aku terkesiap berusaha mengusap agar airmata tak menghalangi tatapan terakhirku padanya, aku ingin mengingat semua bagian wajahnya agar kenangan manis tentang suamiku tak berakhir begitu saja. Tapi bukannya berhenti, airmataku semakin deras membanjiri kedua pipiku. Peringatan dari imam mesjid yang mengatur prosesi pemakaman tidak mampu membuatku berhenti menangis. Aku berusaha menahannya, tapi dadaku sesak mengingat apa yang telah kuperbuat padanya terakhir kali kami berbicara.
Aku teringat betapa aku tak pernah memperhatikan kesehatannya. Aku hampir tak pernah mengatur makannya. Padahal ia selalu mengatur apa yang kumakan. Ia memperhatikan vitamin dan obat yang harus kukonsumsi terutama ketika mengandung dan setelah melahirkan. Ia tak pernah absen mengingatkanku makan teratur, bahkan terkadang menyuapiku kalau aku sedang malas makan. Aku tak pernah tahu apa yang ia makan karena aku tak pernah bertanya. Bahkan aku tak tahu apa yang ia sukai dan tidak disukai. Hampir seluruh keluarga tahu bahwa suamiku adalah penggemar mie instant dan kopi kental. Dadaku sesak mendengarnya, karena aku tahu ia mungkin terpaksa makan mie instant karena aku hampir tak pernah memasak untuknya. Aku hanya memasak untuk anak-anak dan diriku sendiri. Aku tak perduli dia sudah makan atau belum ketika pulang kerja. Ia bisa makan masakanku hanya kalau bersisa. Iapun pulang larut malam setiap hari karena dari kantor cukup jauh dari rumah. Aku tak pernah mau menanggapi permintaannya untuk pindah lebih dekat ke kantornya karena tak mau jauh-jauh dari tempat tinggal teman-temanku.
Saat pemakaman, aku tak mampu menahan diri lagi. Aku pingsan ketika melihat tubuhnya hilang bersamaan onggokan tanah yang menimbun. Aku tak tahu apapun sampai terbangun di tempat tidur besarku. Aku terbangun dengan rasa sesal memenuhi rongga dadaku. Keluarga besarku membujukku dengan sia-sia karena mereka tak pernah tahu mengapa aku begitu terluka kehilangan dirinya.
Hari-hari yang kujalani setelah kepergiannya bukanlah kebebasan seperti yang selama ini kuinginkan tetapi aku malah terjebak di dalam keinginan untuk bersamanya. Di hari-hari awal kepergiannya, aku duduk termangu memandangi piring kosong. Ayah, Ibu dan ibu mertuaku membujukku makan. Tetapi yang kuingat hanyalah saat suamiku membujukku makan kalau aku sedang mengambek dulu. Ketika aku lupa membawa handuk saat mandi, aku berteriak memanggilnya seperti biasa dan ketika malah ibuku yang datang, aku berjongkok menangis di dalam kamar mandi berharap ia yang datang. Kebiasaanku yang meneleponnya setiap kali aku tidak bisa melakukan sesuatu di rumah, membuat teman kerjanya kebingungan menjawab teleponku. Setiap malam aku menunggunya di kamar tidur dan berharap esok pagi aku terbangun dengan sosoknya di sebelahku.
Dulu aku begitu kesal kalau tidur mendengar suara dengkurannya, tapi sekarang aku bahkan sering terbangun karena rindu mendengarnya kembali. Dulu aku kesal karena ia sering berantakan di kamar tidur kami, tetapi kini aku merasa kamar tidur kami terasa kosong dan hampa. Dulu aku begitu kesal jika ia melakukan pekerjaan dan meninggalkannya di laptopku tanpa me-log out, sekarang aku memandangi komputer, mengusap tuts-tutsnya berharap bekas jari-jarinya masih tertinggal di sana. Dulu aku paling tidak suka ia membuat kopi tanpa alas piring di meja, sekarang bekasnya yang tersisa di sarapan pagi terakhirnyapun tidak mau kuhapus. Remote televisi yang biasa disembunyikannya, sekarang dengan mudah kutemukan meski aku berharap bisa mengganti kehilangannya dengan kehilangan remote. Semua kebodohan itu kulakukan karena aku baru menyadari bahwa dia mencintaiku dan aku sudah terkena panah cintanya.
Aku juga marah pada diriku sendiri, aku marah karena semua kelihatan normal meskipun ia sudah tidak ada. Aku marah karena baju-bajunya masih di sana meninggalkan baunya yang membuatku rindu. Aku marah karena tak bisa menghentikan semua penyesalanku. Aku marah karena tak ada lagi yang membujukku agar tenang, tak ada lagi yang mengingatkanku sholat meskipun kini kulakukan dengan ikhlas. Aku sholat karena aku ingin meminta maaf, meminta maaf pada Allah karena menyia-nyiakan suami yang dianugerahi padaku, meminta ampun karena telah menjadi istri yang tidak baik pada suami yang begitu sempurna. Sholatlah yang mampu menghapus dukaku sedikit demi sedikit. Cinta Allah padaku ditunjukkannya dengan begitu banyak perhatian dari keluarga untukku dan anak-anak. Teman-temanku yang selama ini kubela-belain, hampir tak pernah menunjukkan batang hidung mereka setelah kepergian suamiku.
Empat puluh hari setelah kematiannya, keluarga mengingatkanku untuk bangkit dari keterpurukan. Ada dua anak yang menungguku dan harus kuhidupi. Kembali rasa bingung merasukiku. Selama ini aku tahu beres dan tak pernah bekerja. Semua dilakukan suamiku. Berapa besar pendapatannya selama ini aku tak pernah peduli, yang kupedulikan hanya jumlah rupiah yang ia transfer ke rekeningku untuk kupakai untuk keperluan pribadi dan setiap bulan uang itu hampir tak pernah bersisa. Dari kantor tempatnya bekerja, aku memperoleh gaji terakhir beserta kompensasi bonusnya. Ketika melihatnya aku terdiam tak menyangka, ternyata seluruh gajinya ditransfer ke rekeningku selama ini. Padahal aku tak pernah sedikitpun menggunakan untuk keperluan rumah tangga. Entah darimana ia memperoleh uang lain untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga karena aku tak pernah bertanya sekalipun soal itu.Yang aku tahu sekarang aku harus bekerja atau anak-anakku takkan bisa hidup karena jumlah gaji terakhir dan kompensasi bonusnya takkan cukup untuk menghidupi kami bertiga. Tapi bekerja di mana? Aku hampir tak pernah punya pengalaman sama sekali. Semuanya selalu diatur oleh dia.
Kebingunganku terjawab beberapa waktu kemudian. Ayahku datang bersama seorang notaris. Ia membawa banyak sekali dokumen. Lalu notaris memberikan sebuah surat. Surat pernyataan suami bahwa ia mewariskan seluruh kekayaannya padaku dan anak-anak, ia menyertai ibunya dalam surat tersebut tapi yang membuatku tak mampu berkata apapun adalah isi suratnya untukku.
Istriku Liliana tersayang,
Maaf karena harus meninggalkanmu terlebih dahulu, sayang. maaf karena harus membuatmu bertanggung jawab mengurus segalanya sendiri. Maaf karena aku tak bisa memberimu cinta dan kasih sayang lagi. Allah memberiku waktu yang terlalu singkat karena mencintaimu dan anak-anak adalah hal terbaik yang pernah kulakukan untukmu.
Seandainya aku bisa, aku ingin mendampingi sayang selamanya. Tetapi aku tak mau kalian kehilangan kasih sayangku begitu saja. Selama ini aku telah menabung sedikit demi sedikit untuk kehidupan kalian nanti. Aku tak ingin sayang susah setelah aku pergi. Tak banyak yang bisa kuberikan tetapi aku berharap sayang bisa memanfaatkannya untuk membesarkan dan mendidik anak-anak. Lakukan yang terbaik untuk mereka, ya sayang.
Jangan menangis, sayangku yang manja. Lakukan banyak hal untuk membuat hidupmu yang terbuang percuma selama ini. Aku memberi kebebasan padamu untuk mewujudkan mimpi-mimpi yang tak sempat kau lakukan selama ini. Maafkan kalau aku menyusahkanmu dan semoga Tuhan memberimu jodoh yang lebih baik dariku.
Teruntuk Farah, putri tercintaku. Maafkan karena ayah tak bisa mendampingimu. Jadilah istri yang baik seperti Ibu dan Farhan, ksatria pelindungku. Jagalah Ibu dan Farah. Jangan jadi anak yang bandel lagi dan selalu ingat dimanapun kalian berada, ayah akan disana melihatnya. Oke, Buddy!
Aku terisak membaca surat itu, ada gambar kartun dengan kacamata yang diberi lidah menjulur khas suamiku kalau ia mengirimkan note.
Notaris memberitahu bahwa selama ini suamiku memiliki beberapa asuransi dan tabungan deposito dari hasil warisan ayah kandungnya. Suamiku membuat beberapa usaha dari hasil deposito tabungan tersebut dan usaha tersebut cukup berhasil meskipun dimanajerin oleh orang-orang kepercayaannya. Aku hanya bisa menangis terharu mengetahui betapa besar cintanya pada kami, sehingga ketika ajal menjemputnya ia tetap membanjiri kami dengan cinta.
Aku tak pernah berpikir untuk menikah lagi. Banyaknya lelaki yang hadir tak mampu menghapus sosoknya yang masih begitu hidup di dalam hatiku. Hari demi hari hanya kuabdikan untuk anak-anakku. Ketika orangtuaku dan mertuaku pergi satu persatu meninggalkanku selaman-lamanya, tak satupun meninggalkan kesedihan sedalam kesedihanku saat suamiku pergi.
Kini kedua putra putriku berusia duapuluh tiga tahun. Dua hari lagi putriku menikahi seorang pemuda dari tanah seberang. Putri kami bertanya, “Ibu, aku harus bagaimana nanti setelah menjadi istri, soalnya Farah kan ga bisa masak, ga bisa nyuci, gimana ya bu?”
Aku merangkulnya sambil berkata “Cinta sayang, cintailah suamimu, cintailah pilihan hatimu, cintailah apa yang ia miliki dan kau akan mendapatkan segalanya. Karena cinta, kau akan belajar menyenangkan hatinya, akan belajar menerima kekurangannya, akan belajar bahwa sebesar apapun persoalan, kalian akan menyelesaikannya atas nama cinta.”
Putriku menatapku, “seperti cinta ibu untuk ayah? Cinta itukah yang membuat ibu tetap setia pada ayah sampai sekarang?”
Aku menggeleng, “bukan, sayangku. Cintailah suamimu seperti ayah mencintai ibu dulu, seperti ayah mencintai kalian berdua. Ibu setia pada ayah karena cinta ayah yang begitu besar pada ibu dan kalian berdua.”
Aku mungkin tak beruntung karena tak sempat menunjukkan cintaku pada suamiku. Aku menghabiskan sepuluh tahun untuk membencinya, tetapi menghabiskan hampir sepanjang sisa hidupku untuk mencintainya. Aku bebas darinya karena kematian, tapi aku tak pernah bisa bebas dari cintanya yang begitu tulus.

Senin, 10 Oktober 2011

KENAPA SIH GUE GALAU (?)


KENAPA SIH GUE GALAU (?)

Kalian pernah galau? Biasanya sih saat malam tiba GALAU datang, Kadang kita tau apa penyebabnya dan malah tidak tau kenapa sih kita galau  atau malah ada yang gak tau apa itu Galau? keterlaluan,  Galau adalah Perasaan gelisah yang datang karena belum ada kepastian atau kejelasan. setuju? yah harus tentunya hehe, mungkin kalian tau motivator sukses yah betul itu Mario Teguh, saya sangat senang dengan Motivator yang satu ini, dia pernah bilang "Jika anda selalu galau berarti anda sedang diperintahkan untuk naik kelas"
yah kutipan yang satu ini memang membuat kita move on dari kegaluan kita, tapi kutipan ini memang benar, coba bayangkan semakin kita galau berarti kita semakin mencari kebijakan-kebijakan yg membuat hati kita tenang. oke deh langsung saja pada inti masalahnya, bagaimana cara menghilangkan rasa  Galau itu? jawabannya adalah cepat lakukan apa yang kamu khawatirkan, bingung? yah contohnya sajalah, kamu galau karena kamu bingung mau milih fakultas ekonomi atau hukum (beda jauh yah) nah cepatlah kamu pilih salah satu, jangan kamu takut akan kegagalan sesungguhnya Tuhan itu maha adil kok. so jangan kamu melakukan Penundaan yang malah membuat kamu khawatir dan gelisah, ayolah mulai dari sekarang belajar untuk berani mengambil keputusan. yap so do the best ! :)

Menghilangkan Kejenuhan [!!!]


Menghilangkan Kejenuhan [!!!]
Memang kejenuhan itu memang kadang menghampiri kita sebagai makhluk hidup .. yah namanya juga manusia pasti merasakan suatu kejenuhan. Memang kejenuhan ini kadang saat mengganggu, misalnya saja seorang siswa jenuh untuk bersekolaj, wuaaaaaahhh ini sungguh gawat tentunya, tapi sulit dipungkiri kalo kita melakukan sesuatu aktivitas yang monoton setiap harinya bukan tak mungkin JENUH ini pasti datang so kita makanya harus pintar-pintar untuk mengolah kegiatan, merancangnya sedemikian rupa agar kita bisa fun and enjoy buat jalaninnya, pasti kalo sudah membaca ini kalian berkata dalam hati (TEORI GAMPANG, PRAKTEKNYA YANG SUSAH) kalian bicara ini?? Aduh kasian kalo iya berarti kalian pesimis, tidak meyakini kemampuan kalian, ayolah wake up wake up, manusia itu hebat loh. Untuk menghilangkan JENUH , kita juga bisa melakukan hobi kita dalam waktu senggang atau tidak mencoba sesuatu yang belum kalian coba –> tentunya sesuatu yang positif yah J .
Ada saran juga nih, ada yang suka baca cerpen? Nah kalo yang lagi jenuh bisa baca cerpen, serius baca cerpen itu bisa bawa kita kedunia lain dan balikin mood kita loh, gak percaya (?) coba dulu makanya. Ini contoh cerpen yang bisa dibaca .. check it out


MATCHING
Kau terindah dan selalu terindah, aku bisa apa.. tuk memilikimu”  Nyanyian Galih yang melengking terdengar jelas mengisi kesunyian komplek rumahnya, dia terus bernyanyi bergitar ria diluar rumahnya sambil melihat bintang yang sebenarnya tak ada sedikitpun bintang terlihat dilangit, inilah kerjaannya setiap malam minggu , hanya diam menggalau ria bersama gitar yang memang sudah dianggap sebagai keluarga sendiri, “bang, kapan mau laku bang? Gak bosen pacaran sama gitar aja ?” ejek Risna adiknya yang saat itu sudah terlihat rapih , “mau kemana lu udah rapih gitu?” ucap Galih, sedikit lupa laki-laki yang sedang menggalau itu namanya Galih Audi Utomo, mahasiswa Psikologi yang akhir-akhir ini baru sadar bahwa namanya mempengaruhi nasibnya, jika diteliti namanya bisa disingkat menjadi GalAU = Galih Audi Utomo. “Ya jalanlah bang, emangnya abang Cuma bisa diem aja gitu bengong liatin kucing pacaran dipohon, bang sadar bang lu tuh ganteng bang, cari cewe aja susah amat’ ucap Risna sambil bernada mengejek, “ah berisik lu na, sana mending pergi, tuh cowo lu si Babi ngepet udah dateng” Ucap Galih yang tau sosok jangkung putih dan kurus sudah nyengir siap menjemput adiknya Risna, “ih Bobi bang bukan babi ! “ Ucap Risna melotot sekaligus tersenyum nyengir menunjukan behel hijaunya , “Bang kita keluar dulu yah, permisi bang” Ucap babi eh bobi (maksudnya haha penulis lagi galau juga jadi salah ketik).  “Anjir gila kenapa gue mau dipanggil Abang, emang gue abang-abang? “ ketus Galih yang baru sadar kalo tadi dia didzhalimi oleh 2 bocah SMA itu,  tanpa dipikirkan lagi masalah tadi, Galih memetik gitarnya lagi sambil menyanyikan lagu cinta yang tak jelas untuk siapa, lalu sejenak dia diam melamun “kenapa gue susah banget deketin cewe yah? Pertama si Kikan anak Design,  gue sempet deket sama dia, tapi Cuma  dua hari doang deketnya itu juga karena dia Cuma nanya-nanya tentang si Irfan, Rika anak kampus sebelah dia tipe gue banget udah cantik, pinter, bodinya bagus pas gue ampir tembak tuh cewe taunya ayam kampus males gila gue pacaran sama bekas om om, terakhir yang pernah deket banget sama gue itu si Hilma, anak Psikologi juga , manis, santun, pipinya chubby matanya sipit dan ah lucu pokonya, tapi niat gue buat pacarin dia gugur toh dia diajak salaman aja susah minta ampun katanya bukan muhrim, mana mau cewe yang taat banget sama agama mau jalanin yang namanya pacaran, jadi gue pending ampe entar tahun 2015 buat lamar si Hilma, terus si Yati , Loli dan Gina, terus siapa lagi yah?” Galih garuk-garuk kepala mengingat  nama cewe yang emang gak pernah sukses buat dia tembak, saat terdiam beberapa lama Galih mengambil cermin yang tergeletak dimeja, dia ambil dan memegang cermin tepat didepan matanya, “idung gue mancung, gue putih, terus gigi gue rapih bersih pula gak ada yang bolong” ucapnya sambil menganga melihat giginya yang ‘cling’ bersih , “bokap nyokap lumayan tajir, otak gue gak bego-bego amat, terus kenapa gue sampai saat ini gak punya pacar?” Galih menunduk lemas, pusing setiap malam minggu hanya memikirkan hal ini, dalam keheningannya terdengar suara hp nya, dia melihat nama Irfan terpampang dilayar hapenya, tak  perlu pikir panjang dia mengangkat telfonnya, dan terjadilah percakapan:
Galih: “Halo ada apa fan?”
Irfan: “Eh Mr.Galau, lagi apa lu, ngebangke aja lu, sini ngikut kumpul dicafe biasa”
Galih: “Elah elu nelfon gue cuman mau ngeledek gue? Eh males gila gue mesti jadi kambing conge, lu pada pacaran dan gue mesti liatin gitu? Gak lah”
Irfan: “kagak kok, eh Galau, tadi gue dapet sms dari si Karin katanya besok anak Psikologi ada kunjungan ke Rumah Sakit Jiwa, hahaha lu kemaren gak ikut kuliah kan? Jadi gue kasih tau elu, baik kan gue?”
Galih: “Oh itu ya makasih irfan sayangku, kamu baik deh sama aku’” Galih berkata dengan nada yang terdengar sangat genit.
Irfan:” amit-amit geli gua, yaudah gua tutup yah. Selamat menggalau yah mister Galau” .
Dan benar saja setelah telfon mati Galih si Mister Galau ini melanjutkan rutinitasnya untuk menggalau.
    ****
     Suasana kampus yang ramai dengan berlalu lalangnya mahasiswa dan mahasiswi, tapi suasana kelas Psikologi sangat sepi dan Galih yang melihat itu kaget dia lupakalo hari ini anak Psikologi harus keRumah Sakit Jiwa , dia  refleks berjalan cepat menuju salah satu Rumah Sakit Jiwa diBandung, dia sangat gelisah karena ingat kalo dia tidak ikut kuliah ini, IP nya sudah jelas pasti dibawah 2 dan dosen yang terkenal killier yaitu Miss Heni yang sudah pasti tidak akan memberikan Toleransi kepada siapapun , Galih jalankan mobil dengan kecepatan tinggi, dia  turun dari mobilnya dan bergegas menuju pintu masuk Rumah sakit, tapi langkahnya terhenti saat melihat wanita cantik tepat didepan matanya, “sungguh cantik” ucapnya dalam hati tak kuasa membohongi kalo jantungnya spontan berdetak dengan cepat, mata nya bulat dengan bulu mata lentik, pipi yang merah dan hidung dan bibir yang nyaris sempurna, “mau kemana mba? Ada yang bisa aku bantu mba?” ucap Galih nyengir menunjukan karismanya, tapi wanita itu hanya tersenyum sedikit saja dan tak mengeluarkan sepatah katapun dari mulutnya, “ini cewe cantik kok budeg” ucap Galih dalam hati. “Kenalan yuk?” kali ini Wanita cantik yang berkata dan menyodorkan tangannya untuk bersalaman dengan Galih, “aku Galih” ucap Galih bahagia karena ternyata wanita itu tidak tuli, “aku siapa yah? Aku kambing deh” ucap wanita itu tersenyum genit, Galih yang heran mendengar jawaban wanita cantik itu hanya mengerutkan halisnya, “Kamu lagi apa disini sendirian? Kamu jenguk keluarga kamu yah atau kamu mahasiswi Psikologi juga, kamu dari Universitas mana?” tanya Galih begitu serius dan lagi-lagi wanita itu hanya tersenyum , saat dia tersenyum galih sangat terlihat terpesona dengan kecantikan alami wanita itu, “tanpa make up tapi begitu berseri, sangat cantik “ Galih memandang mata wanita itu dan memberikan sinyal cinta, berharap sinyal cinta itu diterima tanpa ada pending, karena Galih sangat percaya sinyal cinta yang dia kirimkan kali ini sangat istimewa, “Gue cinta pada pandangan pertama” Ucap Galih dalam hati sambil menatap serius bola mata Wanita itu, “Aku cinta kamu, kamu mau jadi anak aku?” tanya wanita itu sambil memeluk Galih, Galih yang menerima pelukan tiba-tiba dari wanita itu hanya bisa bengong tanpa menyadari ada yang ganjil dari ucapan wanita itu, “Aku mau kok jadi pacar kamu, ternyata kita sama-sama merasakan getaran itu, getaran jatuh cinta pada pandangan pertama” ucap Galih kali ini mengelus-elus rambutnya  meskipun Galih tau kalo badan wanita itu sedikit bau tapi itu tidak mempengaruhi suasana romantis yang terjadi diparkiran rumah sakit jiwa ini, Galih kali ini benar-benar merasa melayang kelangit ke-12, merasakan sesuatu yang tak pernah ia rasakan sebelumnya bersama wanita lain , tapi tiba-tiba “kamu jahattt, aaaaahhh kamu jahat” Wanita pujaannya berteriak sambil menangis memukul Galih dan pada saat yang sama pula segerombolan perawat  datang  langsung membawa wanita itu pergi dari pandangan mata Galih,  Galih saat itu hanya bisa bengong menatap kosong, dia langsung berjalan menuju teman-temannya berada, Galih berjalan merasakan keGalauan yang luar biasa, ternyata wanita yang ia kira akan menjadi pelabuhan cintanya adalah pasien Rumah sakit ini. “Eh lu kemana aja Mr.Galau?” ucap Irfan yang melihat Galih baru datang ke Rumah sakit, Galih tidak menjawab apa-apa hanya diam, dan anak-anak Psikologi yang saat itu memang sedang iseng langsung menyeletuk “biasa kan namanya juga si Galau pasti ngegalau dulu”. Galih yang mendengar itu berkata dalam hati “untung aja temen-temen gue gak liat  adegan yang mirip scane telenovela diparkiran tadi, kalo mereka tau bisa tambah Galau gue”  ucapnya dalam hati sambil merasakan jarum kegalauannya menusuk sedikit demi sedikit karena sekalinya dia diterima oleh wanita tapi wanita itu punya gangguan jiwa.
Bagaimana cerpennya (?) nah ini buatan saya loh wkwk, semoga moodnya balik yah , thanks J

Sabtu, 08 Oktober 2011

Sepeda Fixie


Kalian tau pastinya sepeda fixie bukan? nah untuk yang masih penasaran bisa membaca ini..


Bagaimana memiliki, membangun atau membuat sepeda Fixie?
Ada 2 pilihan :
1.Beli jadi,
menghemat waktu dan tenaga, harga tergantung hati dan budget. Pilihan ini baik untuk mereka yang belum memiliki rangka sepeda atau tidak mau repot. Harga relatif lebih mahal, dan komponen umumnya lebih bermutu.
Harga sepeda Fixie untuk minimum dengan komponen seadanya dapat mencapai 1.5 juta. Harga sepeda Fixie yang cukup lumayan sekitar 2.5 juta atau lebih. Sedangkan harga sepeda Fixie rakitan tipe generic dengan komponen cukup baik mencapai 3.5 juta keatas. Tipe sepeda fixie bermerek umumnya berada di atas 4 juta, tergantung komponen yang sedang in.
2. Merakit atau modifikasi dari sepeda bekas.
Yang ini lebih repot, tetapi ketika jadi akan memenuhi hati pemiliknya. Beli dari rangka kosong sudah banyak dijual, atau bisa memilih rangka polos dan di cat sendiri.
Bisa juga mengunakan frame sepeda balap lama. Komponen dari roda dilepas dan diganti dengan komponen sepeda Fixie yang simpel. Untuk ukuran frame sepeda balap tua umumnya masih bisa dipakai, rata rata sepeda Fixie dirancang untuk ban 700C. Jadi bisa saja sepeda jenis road bike lama memasukan hub jenis 700c yang lebih kecil. Ingin meninggalkan sejarah pada sepeda, boleh juga mempertahankan bagian stang road bike. Sisanya boleh di modifikasi.


Apa keunikan dari sepeda Fixie ?
Ini gaya sepeda anda, masalah warna mengikuti selera. Komponen sepeda Fixie tahun ini sudah sangat banyak dan murah. Mau menganti ban dengan warna merah juga boleh, atau kuning susu juga ada, atau membuat sepeda dengan warna putih semuanya juga bisa.
Urusan frame, bila membeli frame jenis rakitan lebih seru. Beli frame polos lalu di cat sesuka hati pemiliknya.

Velg atau Rim Fixie, memiliki beraneka model walaupun bentuknya sama bundar tetapi ada beberapa velg dibuat lebih tebal. Warnanya dari hitam dan putih sudah banyak dipasaran.

Urusan Stang sepeda Fixie juga unik. Dibuat lebih pendek sehingga bisa menyelinap diantara kemacetan kendaraan. Ingin mempertahankan stang atau handlebar sepeda lama juga boleh.

Yang paling asik dengan sepeda Fixie, sepeda ini bisa maju mundur sesuka hati. Digenjot bisa maju atau digenjot kebelakang maka sepeda akan mundur. Maklum sepeda ini umumnya mengunakan gigi belakang tipe fix gear atau gear tetap.

Yang pasti , karena mengikuti gaya minimalis. Sepeda Fixie memang ringan. Rata rata beratnya tidak lebih dari 11kg, bahkan ada yang jauh lebih ringan.

Apa itu sastra?

ehm ehm.. oke kita mulai dengan tulisan pertama.
Banyak remaja jaman sekarang mengatakan "Ah kenapa belajar bahasa indonesia? kita kan udah bisa" ckck sangat memprihatinkan memang dengan pernyataan seperti ini, tapi yah coba kalo remaja itu kita tanya, "Apa itu sastra?" yah sudah ditebak pasti dia dengan gampang menjawab, "Susah neranginnya tapi yang pasti itu".
    Okelah daripada kita membahas tentang keterpurukannya Remaja yang tidak tau sastra lebih baik kita membahas Sastranya. Apa itu sastra? kata Kesusastraan itu berasal dari bahasa Sanssekerta Susastra. Su berarti baik atau bagus, sastra berarti buku/tulisan  atau huruf. Jadi bisa disimpulkan kalo Kesustraan itu berarti himpunan buku-buku yang mempunyai bahasa yang indah serta isi yang baik pula, dalam sastra khusus karangan itu harus meliputi: 1. Bahasa yang terpelihara baik
        2. Isinya baik indah, yaitu benar-benar menggambarkan kebenaran dalam kehidupan manusia.
        3. Cara menyajikannya menarik.
ya begitulah kira-kira, karena materi ini saya pernah mendengarnya dari guru SMP saya. Emang sih Sastra Indonesia itu sekarang rasanya sudah perlahan terkubur karena adanya bahasa-bahasa asing yang berseliweran, yasudahlah yang masih sadar dengan otaknya ayo kita mulai gali gali gali dan terus gali lagi Sastra Indonesia agar Sastra Indonesia bisa terlihat dipermukaan bahkan bisa terbang kelangit, go go go :)